Senin, 20 April 2009

MENUMBUHKAN DAN MEMPERTAHANKAN KREATIVITAS DI TEMPAT KERJA


Kreativitas dapat dipelajari dan ditingkatkan melalui berbagai pelatihan dan penciptaan suasana yang kondusif di lingkungan kerja. Caranya?
Gelombang PHK dengan alasan efisiensi kini melanda dunia, tidak hanya di Indonesia. Perusahaan otomotif tertua di dunia, General Motor (GM), misalnya, melakukan PHK terhadap 25.000 pekerjanya di Amerika Serikat hingga tahun 2008. Di sisi lain, Toyota Motor malah merencanakan membuka satu pabrik baru setiap tahun serta menyerap sekitar 2.500 pekerja untuk mengisi pabrik-pabrik tersebut.Apa yang menyebabkan kegagalan GM dan, sebaliknya, keberhasilan Toyota Motor? Jawabannya tak lain adalah “inovasi tiada henti”. Secara tegas Toyota membangun budaya kreatif dan menerapkan motto: “Inovasi atau Mati”. Maka, tak heran bila perusahaan asal Jepang ini makin merajalela menguasai industri otomotif dunia.Dalam pandangan Managing Partner HR Excellency Anthony Dio Martin, inovasi memiliki daya penetrasi ke semua lini proses di perusahaan. “Seperti dalam hal perancangan layout ruang kerja, proses desain Standard Operating Procedure (SOP), pengambilan keputusan harian, hingga pencetusan ide produk, semuanya dilandasi dengan berpikir kreatif,” katanya mencontohkan.Jika demikian, kreativitas adalah sesuatu yang sangat luas penerapannya. Secara sederhana, J.S. Bruner mendefinisikan kreativitas dalam bukunya Toward a Theory of Instruction sebagai “kejutan yang efektif”, di mana hasilnya adalah sesuatu (bisa produk atau gagasan) yang mengejutkan. Misalnya, karena baru, belum pernah ada, belum pernah terpikirkan, dan unik.Sementara Newel, Shaw, dan Simon dalam penelitian ilmiah yang berjudul The Process of Creative Thinking mendefinisikan kreativitas sebagai salah satu dari tiga unsur, yaitu melihat dengan sudut pandang (perspektif) yang baru, menemukan hubungan baru, membentuk kombinasi baru dari objek, konsep, atau fenomena.Apapun definisinya, Arman Hakin Nasution dalam bukunya Creative Thinking, How to Get Success in Your Future Career menyimpulkan, kreativitas adalah kemampuan untuk mencapai kekuatan menarik sebuah ide dari diri Anda melalui tahapan awal berupa pengamatan terhadap kondisi sekeliling.Anthony berpendapat, kreativitas di perusahaan lebih berorientasi kepada pengambilan keputusan kreatif untuk menghadapi berbagai tantangan organisasi dalam mencapai tujuan bersama. Karena itu ia menyarankan setiap karyawan memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan kreatif baik secara individu maupun kolektif, yang akhirnya berujung pada inovasi. “Sebuah ide harus berakhir dengan implementasi. Proses berpikir kreatif bisa ditumbuhkan dan diintegrasikan dalam budaya perusahaan,” ujarnya yakin.Untuk menumbuhkan kreativitas dalam diri karyawan, Anthony memaparkan, pendekatan sekali tembak melalui pelatihan, training, atau seminar saja tidak cukup. Paling tidak dibutuhkan tiga elemen penting, yakni fondasi, proses, dan reward.Dijelaskannya, hal mendasar yang dibutuhkan untuk menciptakan lingkungan yang kreatif adalah dukungan dari top management. “Tanpa dukungan leadership, kreativitas hanya tumbuh secara sporadis. Bisa jadi, kreativitas karyawan akan dianggap sebagai ancaman atau kekonyolan,” ujarnya seraya menambahkan, akan lebih bagus bila inovasi menjadi bagian dari visi-misi perusahaan. ”Inilah yang akan menumbuhkan kreativitas SDM di perusahaan,” katanya.Sementara itu, yang dimaksud proses oleh Anthony adalah aktivitas berkelanjutan yang diarahkan bagi pertumbuhan dan pelestarian kreativitas. Manifestasinya bisa beragam, mulai dari pelatihan kreativitas internal/eksternal, pengambilan keputusan dengan cara-cara kreatif (misalnya brainstorming dalam meeting), pengadaan kotak ide bagi karyawan, majalah dinding, dan lingkungan yang inovatif.Sedangkan reward adalah hal penting dalam pembentukan budaya kreatif atau bisa disebut penguatan (reinforcement). Menurutnya, SDM kreatif di perusahaan sudah selayaknya diberi insentif namun tidak melulu berupa uang. “Ini bisa menjadi cara ampuh untuk mengabarkan ke seluruh perusahaan bahwa menjadi kreatif adalah bagian dari Key Performance Indicator (KPI) yang menentukan penilaian kinerja,” ungkapnya.Jika semua elemen itu bisa diwujudkan, sebuah perusahaan boleh dibilang mumpuni dalam menumbuhkan dan melanggengkan kreativitas karyawan. “Kata kuncinya adalah “kesinambungan”, sehingga kreativitas bukan semata-mata acara kagetan di perusahaan, melainkan terintegrasi dalam budaya perusahaan,” tutur Anthony.Pakar kreativitas dan inovasi, Dennis Sherwood, merangkum dalam bukunya Smart Things to Know About Innovation & Creativity beberapa ciri lingkungan perusahaan yang konvensional dan inovasional (Lihat tabel 1 dan 2). “Menciptakan lingkungan perusahaan yang inovasional merupakan satu proses yang harus didukung oleh aspek fondasi dan reward,” ujar Anthony menegaskan.Sementara itu, founder FMC --lembaga nirlaba-- Hendrik Lim menyatakan, kreativitas dapat ditumbuhkan dalam diri setiap orang. Pertanyaannya, apakah orang tersebut mau atau tidak? Kalau orang itu tidak kreatif, ia akan menghasilkan sesuatu yang biasa-biasa saja. Sementara orang kreatif berpikir tentang sesuatu yang orang lain tidak pikirkan, tidak mampu, tapi justru dibutuhkan.Hendrik menilai, berpikir kreatif bukan sekadar pintar secara intelektual tetapi harus dibarengi kecerdasan empatik. Kita tentu sering melihat air mineral yang dikemas dalam kemasan botol kecil. Menurut Hendrik, itu merupakan salah satu contoh di mana ada seseorang yang berpikir tentang orang lain. “Bila sedang bepergian jauh, kita ingin membawa sesuatu yang praktis untuk dibawa,” ujarnya.Hendrik berpendapat, pemikiran seperti itu tidak muncul secara tiba-tiba. “Butuh kemauan kuat untuk berpikir dan mengamati apa yang orang butuhkan. Itu semua butuh perhitungan yang jelas, baru bertindak. Ibarat menjual kaos, kita harus melihat marketnya, baru membuat dalam jumlah banyak sesuai jumlah peminat,” katanya.Yang menjadi masalah, lanjutnya, seringkali kita merasa sulit atau mandek dalam mencari ide-ide atau gagasan kreatif. Bahkan, untuk mendapatkan sebuah ide saja, rasanya otak ini sudah buntu. Apakah itu berarti bahwa kita tidak kreatif? “Memang, lingkungan sangat penting untuk membentuk atmosfer yang mendukung kreativitas, entah untuk urusan pekerjaan maupun kesenangan,” tutur Hendrik mengakui. Di luar itu, ia menambahkan, untuk menjadi kreatif seseorang harus memiliki kemampuan untuk fokus pada pekerjaan serta tidak takut pada penolakan dan kritik.Iklim kompetisi juga perlu diajarkan pada setiap individu di korporasi. Mengapa? Hendrik yakin kompetisi dapat menumbuhkan kreativitas seseorang. Misalnya, sistem bonus yang diberikan kepada setiap individu yang mengerjakan tugasnya lebih baik dari yang lain. Dengan begitu, SDM lain pun akan terpacu untuk mengerjakan tugas-tugasnya lebih baik lagi.Hendrik menegaskan, setiap orang dapat menjadi kreatif asalkan mereka mau. Biasanya, orang kreatif mencintai pekerjaannya. “Jika seseorang tidak menyukai pekerjaannya, kreativitas agak sulit ditumbuhkan,” ungkapnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar