Senin, 20 April 2009

Dicari : Guru Pembangun Karakter

Guru berperan penting dalam membentuk SDM berkualitas. Tetapi, siapakah yang layak menjadi guru? Bagaimana mendapatkan guru yang andal?
Setiap orang mungkin punya kesan tersendiri terhadap kehadiran seorang guru. Entah itu kesan positif maupun negatif. Percaya atau tidak, apa yang kita terima dari bangku sekolah memberi dampak signifikan terhadap perkembangan seseorang. Salah satu faktornya adalah cara mengajar guru di kelas. Tak mengherankan bila guru yang kreatif menjadi incaran banyak sekolah saat ini. Di tangan guru seperti inilah anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter dan mampu menyesuaikan diri dengan tantangan zaman.
Menyadari hal tersebut, Sampoerna Foundation Teacher Institute (SFTI) membuka pelatihan untuk guru-guru yang ingin lebih berkembang. Seperti disampaikan Kenneth J Cock, Direktur SFTI, di ruang kerjanya Rabu, 18 Juni lalu, SFTI memfasilitasi guru di Indonesia untuk mendapatkan pelatihan dan mempersiapkan mereka dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mengajar. “Kami ingin berkontribusi dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia,” ungkap Kenneth yang akrab disapa Ken membuka perbincangan. Untuk mencapai tujuan itu, lanjutnya, SFTI berupaya membangun pendidik yang profesional dan mampu menyajikan materi pengajaran yang dapat mencuri perhatian anak, berpikir keluar dari pakem yang membelenggu kreativitas serta mampu menciptakan lingkungan belajar-mengajar yang interaktif.
Bila guru yang kreatif menjadi syarat mutlak dalam pendidikan, apa yang seharusnya menjadi pertimbangan dalam proses rekrutmen? Menurut Sumar Hendayana, Ph.D, Dekan FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung, setidaknya ada empat hal penting yang harus dikedepankan dalam menilai seorang calon guru, meliputi: pola pikir, wawasan, kepribadian, dan rekam jejaknya. “Untuk level TK, SD, dan SMP lebih menitikberatkan kepada keteladanan. Jadi, kepribadian guru menjadi pertimbangan penting,” kata Sumar. Di samping itu, “Hal-hal pribadi sang guru turut menentukan level anak didiknya,” ia menambahkan.
Untuk level yang lebih tinggi, selain kepribadian dibutuhkan pula wawasan yang luas. “Kita bisa mengetahuinya lewat wawancara,” ujar Sumar. “Kemampuan ICT (Information, Communication, Technology-red) dan bahasa Inggris ikut menjadi penilaian di level yang lebih tinggi,” katanya tegas. Di luar itu, kemampuan akademik -- dalam arti indeks prestasi kumulatif (IPK) yang bagus -- bisa menjadi salah satu pertimbangan tetapi bukan segalanya. “Yang penting adalah keterampilan berkomunikasi, empati dan logika yang seimbang,” tutur alumni Ph.D Clarkson University, USA ini menandaskan.
Ken menambahkan, untuk menjadi guru juga dibutuhkan passion yang tinggi. Hal ini diamini pula oleh Sumar. “Passion bisa diketahui dari jawaban calon guru dalam menjawab pertanyaan tentang pendidikan,” ungkapnya. Bagi Sumar dan Ken, mendidik anak adalah membangun karakter. Jika dalam jawaban calon guru tidak mencerminkan hal ini, mereka berpendapat, belum bisa diharapkan menjadi guru. “Tidak cukup hanya dengan modal cinta. Mendidik anak adalah menginginkan mereka tumbuh dan berkembang menuju potensi optimalnya. Untuk itu, seorang guru harus mencintai mengajar. Mengajar adalah masalah komunikasi, jadi harus terampil berkomunikasi,” tutur Ken memaparkan.
Berkaitan dengan hal tersebut, Indonesia sebenarnya sudah mempunyai undang-undang pendidikan nasional yang, di mata Sumar, sangat bagus kandungannya. Namun demikian, ia menilai, UU No.20/2003/SISDIKNAS hanya sekadar simbol. “Sepengetahuan saya banyak guru yang tidak tahu isi UU pendidikan. Itu yang mengajar di kota, apalagi yang di pelosok?,” ungkapnya ragu. “Padahal isinya bagus sekali. Tujuan pendidikan nasional kita adalah mengembangkan potensi anak, berakhlak mulia, cakap, dan lain-lain,” katanya menyayangkan. Berdasarkan pijakan tersebut, seorang guru seharusnya bisa membangun paradigma bahwa mendidik adalah membangun karakter. Maka, dengan sendirinya guru akan termotivasi untuk mencari sendiri informasi dan menambah wawasannya.
Sementara itu, institusi di mana guru tersebut mengabdi ikut berperan dalam pembinaan secara berkesinambungan baik dari segi informasi, komunikasi maupun teknologi. “Tanpa pembinaan, profesionalitas guru akan menurun. Dan, tanpa pembinaan kita tidak bisa mengharapkan guru menjadi seperti yang kita harapkan,” Sumar menjelaskan.
Lantas, bagaimana mendapatkan orang yang tepat sebagai praktisi pendidikan? Ken menjelaskan, SFTI melakukan banyak hal dalam mencari guru yang akan dilatih. “Kami mencari seseorang yang memiliki gairah untuk menjadi guru,” kata kelahiran Adelaide, 4 September 1944 ini. Dalam merekrut calon guru yang akan dilatih, SFTI seringkali mencarinya sendiri. “Kadang mereka datang kepada kami. Di kesempatan lain, kami pergi ke beberapa kabupaten menemui Kepala Dinasnya dan menawarkan program-program kami untuk meningkatkan kualitas guru-guru di daerahnya,” Ken menjabarkan.
Sedangkan di UPI, Bandung, Sumar mengaku bahwa model pembinaan yang dilakukan para dosen adalah melalui studi langsung di lapangan. “Kami ajak para dosen ke lapangan (kelas-red) minimal seminggu dua kali dalam dua tahun terakhir ini,” katanya. “Tujuannya adalah, agar para dosen mengerti kendala atau kesulitan yang dialami oleh guru di kelas,” Sumar memberi alasan. Dengan mengerti kondisi sekolah, kelas, guru maupun murid, dia berharap dosen akan mampu menerjemahkan dan menggali solusi untuk disampaikan kepada mahasiswanya yang calon guru. “Bagaimana mungkin kita membangun pendidikan yang berkualitas di Indonesia jika kita sendiri tidak tahu kebutuhan kita?,” ujar Sumar balik bertanya.
Sumar dan Ken berpendapat sama bahwa cikal bakal guru yang berkualitas ditentukan oleh institusinya sendiri. “Jika kita membuat sebuah sekolah, pikirkan lagi apa visi dan misi kita. Sebab, ini akan menentukan guru yang direkrut,” kata Sumar. Di lain pihak, Ken menambahkan, “Yang penting adalah, kita harus membuat para guru berpikir beda tentang pekerjaan mereka dan mau membangun paradigma baru tentang pendidikan yang baik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar